Kopi Tubruk

Totok menghirup aroma yang meruap dari cangkir keramik itu pelan-pelan, penuh penghayatan, meresapi setiap partikel  yang  terhambur dari uap kopi tubruk yang menggoda selera.  Sesekali melirik ke arah pengunjung warung di sebelahnya, meniru beberapa gerakan, mencecap dengan ujung bibir kemudian berdecak penuh kenikmatan. Oh, laki-laki setengah baya itu tiba-tiba mengangkat sebelah kakinya, menjejakkan di atas bangku. Kemudian tertawa dengan pongahnya, setelah selesai membual di hadapan pelanggan warung.

“Aku harus bisa seperti mereka, laki – laki itu harus bisa merasai kopi dengan sempurna” tekad Totok dalam hati.

Satu jam dua jam, 3 kali cangkir kopi Totok tandas sudah, Marni, anak pemilik warung berulang kali melempar senyumnya yang paling manis. Kapan lagi, ada pelanggan warung yang wajahnya sebersih Totok. Diantara supir-supir truk pantura dan beberapa tukang kuli angkut yang mampir ke warungnya, Totok tentu terlihat paling menawan.

Totok melihatnya sekilas, Marni memang manis, ukuran dadanya yang di atas rata-rata membuat beberapa mata lelaki-lelaki di warung kopi itu lupa berkedip beberapa saat. Totok menyadari, Marni mengirimkan sinyal-sinyal rahasia kepadanya, beberapa hari lalu, ketika tiba-tiba tangan Marni mendarat di paha kirinya, Totok sempat tergagap sesaat merasakan bagian vitalnya yang dominan mendadak bereaksi. Tapi saat ini, Marni masih terlalu jauh untuknya, ada banyak hal yang perlu dipersiapkan jika dia menginginkan Marni.

Malam semakin larut, warung mulai terlihat sepi. Totok menyerahkan beberapa lembar uang kepada Marni.

“Mas Totok besok ke sini lagi kan ya?” Totok tersenyum, mengambil jaket, menghidupkan motornya dan bergegas pergi.

Totok melambatkan laju motornya, berhenti di sebuah rumah petak yang berjajar rapi. Memarkir motornya dengan perlahan, memastikan deru mesinnya mati agar tidak membuat tetangga terbangun.

Di depan kaca besar, Totok melepaskan jaket dan kaosnya, kemudian perlahan – lahan melepas stagen yang dia lilitkan dengan kencang di dadanya. Memandangi dua buah gundukan yang menyebabkan dia di namai perempuan.

Nanti jika saldo tabunganku cukup, aku akan menjadi lelaki sepenuhnya.” ucapnya pelan.

*stagen : kain panjang yang biasanya digunakan wanita jawa untuk mengecangkan area perut

Iklan

Sepasang Pohon Akasia di Pinggir Jalan Pemuda

*Disclaimer : ini sama sekali bukan cerita cinta, apalagi cerita rakyat*

Sudah hampir sebulan saya menginjakkan kaki di kota Atlas Semarang, dan Alhamdulillah disambut hujan yang setia mengguyur bumi saat pagi, sore dan beberapa waktu di siang hari. Pokoknya pas banget hawanya, pas banget buat … ah sudahlah kembali ke judul awal.

Kantor saya terletak di salah satu jalan protokol di kota Semarang, tentu saja di bagian tepinya bukan di tengah – tengah (oke ini ga penting untuk dibahas). Saya memutuskan untuk pindah ke kantor cabang di Semarang dengan berbagai pertimbangan, salah satunya tentu mengikuti tempat dinas suami. Walaupun pada prosesnya nanti saya ga tau akan berapa lama bisa bertahan satu kota kalau sama-sama bekerja, karena kebetulan pekerjaan kami berdua sama-sama mobile, he he.

Dan tentu saja, banyak juga alasan yang timbul di pikiran orang-orang sekitar kami,

“Pindah gara-gara pingin cepat hamil yaa” dan saya pun memaklumi wong namanya saya memang belum punya anak, harus pasrah jika apapun tindakan yang saya ambil pasti dihubung-hubungkan dengan kehamilan, sudah kebal 😀 *tambahin sumpel telinga*

Di depan kantor ada sepasang pohon akasia, berjarak kira-kira 3 meter tapi daun-daunnya sudah nyaris bersentuhan. Ketika hujan hampir berhenti, tetes-tetes air mengalir dan saling berebutan menjatuhkan diri ke tanah, meski sebagian harus puas menunggu hembusan angin atau goyangan orang iseng agar bisa mencium tanah di antara aspal jalan dan trotoar yang baru saja selesai dibangun pemerintah kota.

kantor cabang baru 😀

Baca lebih lanjut

Kepada Dewa

Dewa,

Berat ….

Berat memang, untuk melepaskan diri. Serupa bayangan, mengikuti setiap langkah yang kutapaki, tidak hanya ketika matahari garang bersinar, bahkan ketika dia pergi dan sembunyi. Sama sekali kau tidak menyisakan penumbra bagi malam-malam yang kulewati, semua pekat dan sesak terisi olehmu.

Kau sempurna, sebagai lelaki yang mampu membuat dia, aku dan mungkin beberapa wanita di luar sana bertekuk lutut menyerahkan hatinya padamu, tidak hanya untuk kau sayangi, pun saat kau sakiti, entah sengaja atau tidak.

Baca lebih lanjut

Cikini, senja dan sepotong kue

Aku jatuh cinta dengan senja, iya … senja bersapu warna orange serupa jeruk lokam yang menggunung di pasar swalayan dikala imlek menjelang.  Dia istimewa meski kehadirannya sebentar saja, mengundang ingin tau dan rasa rindu. Senja yang setia menemani surya kembali ke peraduannya, menjadi titian antara teriknya siang dan redupnya malam.

Saat jumat hampir mendekati akhir, dan beberapa orang mulai sibuk berlalu lalang dijalanan, berbaju batik dengan wajah penat berbalut keriangan. Mereka senang, karena mereka akan pulang, bertemu dengan hati-hati penuh cinta pelepas dahaga jiwa.

Masih di meja kayu, dekat dengan jendela kaca berbingkai alumunium berbalur cat coklat tua, menyaru kayu meski tak sedikitpun mampu. Dekat sekali, bahkan aku bisa menempelkan sebelah pipiku yang basah oleh keringat, berlari-lari mengejar kereta ac ekonomi yang hanya lewat satu jam sekali. Dari sana aku bisa melihatmu, melihat bayangan tubuhmu mendekat, melangkah masuk dan duduk bersamaku disini, dibangku kayu yang masih kosong di depanku.

Baca lebih lanjut

Salina

“Perempuan genap berumur 30 tahun, masih sendiri, bahkan tanpa pernah memiliki riwayat berpacaran sama sekali.” gumamku pelan sambil berdiri tegak di depan kaca besar di kamarku. Perlahan kusibakkan rambutku ke belakang telinga, mengamati bentuk wajahku sendiri seperti perempuan kurang waras. Tidak ada yang salah, setidaknya wajahku tidak memalukan untuk diajak menghadiri pesta pernikahan. Seleraku berbusana pun tidak norak, meskipun aku juga bukan orang yang menghamba pada mode.

“Ah .. persetan dengan semua itu, persetan dengan omongan orang.”

Aku berlalu keluar, mengambil tas dan kunci mobil dengan tergesa dan berlalu, setidaknya aku butuh udara segar hari ini.

Jalanan lenggang, udara dingin yang menusuk tulang malam itu membuat orang lebih senang mendekam di rumah. Baguslah, aku juga sedang malas bermacet-macetan, kalau perlu aku akan memacu mobilku ini secepat-cepatnya, biar semua sesak yang menghimpit ini turut terbang dan terlepas.

Setelah kulintasi separo jalanan jakarta, menafikkan anjuran pemerintah untuk menghemat bahan bakar dan menghabiskannya untuk sebuah perjalanan yang tidak bertujuan. Kubelokkan mobilku ke sebuah restaurant 24 jam. Di sebuah pojok jalan, dengan suasana yang tak terlalu ramai. Jujur, sebenarnya aku anak rumahan sejati, tapi pertanyaan yang bertubi-tubi tentang jodoh yang membuat kepalaku pening di rumah membuatku ingin kabur sejenak.

“Alin …” aku menoleh, cuma satu makhluk yang memanggilku begitu.

“Ketemu disini, tumben “ tanpa bertanya Diaz duduk di hadapanku, membawa serta segelas kopi panas dan sepiring nachos. Aku mengernyit.

“Sapa yang ngebolehin kamu duduk disini?” sahutku tanpa menyembunyikan rasa sebalku.

“Ga ada, emang perlu minta ijin ya” duh, sial bener ya, malam ini, harus ketemu makhluk yang benar-benar PD-nya setengah hidup ini.

Baca lebih lanjut

Kurengkuh

 

Lupakan aku, hapus semua masa yang pernah kita lewati bersama.

Aku tak akan pernah bisa, semua masa bersamamu tak pernah kutulis dengan tinta, tapi kupahat di seluruh dinding hatiku, utuh dan penuh.

Tidak ada yang perlu dipertahankan, bahkan untuk sebuah kenangan, semua sudah berakhir.

Bagiku kamulah awal dan akhir, tidak akan pernah ada episode lain.

Baca lebih lanjut

Payung Pelangi

Sempurna.

Lengkap sudah kesialan Bianca hari ini. Mama yang mendadak ke rumah nenek entah untuk berapa hari, mbak Nah yang tiba-tiba harus pulang kampung karena ayahnya sakit, mobil yang ikut-ikutan mogok dan ujian kalkulus yang berpotensi mendapatkan nilai bulat telur seperti bentuk wajahnya.

Ah sial! kenapa pula hujan turun nggak pake permisi” Bianca merutuk kesal, kakinya berlompatan menghindari kubangan yang bermunculan seiring gerimis yang semakin rintik. Belum lagi pengendara mobil yang tanpa empati sedikitpun, menggilas habis genangan air dengan kecepatan tinggi, mengirimkan cipatran air keruhnya ke baju para pejalan kaki di bahu jalan, karena trotoar sudah penuh dengan pedagang kaki lima.

Baca lebih lanjut

Kamu

Di sudut kafe itu, secangkir coklat panas, meja kayu segi empat dan sofa warna merah bata.

Mencumbui kenangan, merekontruksi satu persatu tanpa perlu mengingatnya, toh dalam lobus parietalku hanya berisi dirimu.

Wajahmu yang berkerut setiap kali kuhirup uap coklat panas ini, sambil memutar cangkirnya 3 kali, memeluknya dengan kedua telapak tanganku. Lalu menggosokkan kedua tanganku yang terinduksi panas ini di kedua pipimu.

Baca lebih lanjut